Langit di atas stasiun
Pagi itu udara masih dingin, tapi suara Randa sudah memenuhi rumah.Dio! Sudah kubilang, sepatu sekolah jangan ditaruh sembarangan!”
Pintu kamar Dio terbuka dengan hentakan. Remaja itu menatap ayahnya dengan wajah lelah.“Sepatu itu rusak, Yah. Aku mau pakai sandal dulu aja—”
“Sandal?! Kau pikir sekolah itu pasar?!”
Nada suaranya meninggi. Rena, yang sedang menyuap nasi di meja makan, berhenti dan menunduk, sendoknya gemetar di tangan kecilnya.
Randa menarik napas, tapi amarahnya sudah telanjur tumpah. Ia meraih sandal dari lantai, melemparkannya ke pojok ruangan. “Kau itu bikin malu saja! Anak laki-laki harus disiplin!”
Dio menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya — bukan sekadar kesal, tapi kecewa.
“Disiplin itu bukan marah-marah terus, Yah.”
Kalimat itu seperti tamparan. Randa diam sejenak. Tapi egonya terlalu tebal untuk mengakui rasa bersalah yang tiba-tiba muncul di dadanya. Ia memilih berbalik, berjalan ke dapur, pura-pura sibuk menyalakan rokok.
Dari dapur, ia bisa mendengar langkah Dio yang pergi keluar tanpa pamit, dan suara Rena yang mulai menangis pelan.
Asap rokok naik perlahan, membentuk kabut samar di ruangan yang sempit itu.
Randa menatap ke luar jendela.
“Aku cuma mau kalian jadi orang baik,” gumamnya — suara yang tidak pernah terdengar oleh siapa pun.
Suara Di Balik Tembok
Hujan deras mengguyur atap rumah kayu.
Randa kecil — delapan tahun, kurus, bertelanjang kaki — duduk di bawah meja makan, memeluk lutut. Dari celah meja, ia melihat kaki ayahnya berjalan mondar-mandir, sandal jepit basah memukul lantai.
“Mana nasi?! Katanya masak jam enam!”
Suara itu seperti guntur. Ibu Randa bergegas dari dapur, membawa piring. Tangannya gemetar.
“Maaf, Kang, tadi kompornya mati, kayunya basah—”
“Alasan!”
Tamparan itu datang sebelum kalimatnya selesai.
Piring pecah. Nasi tumpah di lantai.
Randa menahan napas, menatap remah-remah nasi yang menempel di kaki ayahnya.
Ayahnya berbalik ke arahnya.
“Ngapain ngumpet di situ, hah?”
Randa menggigil.
“Aku… aku lapar, Yah…”
“Lapar?! Makan tuh batu di luar!”
Ia diangkat kasar, didorong ke luar rumah, ke halaman yang becek. Tubuh kecilnya jatuh, lumpur menempel di pipinya.
Dari pintu, ibunya memanggil pelan — tapi tak berani mendekat.
Hujan makin deras.
Randa menatap tanah, giginya gemeretak.
Dalam kepalanya, ada satu kalimat yang berulang-ulang:
Aku gak mau jadi kayak dia.
Ia mengatakannya seperti doa, tapi juga seperti ancaman.
Dan di balik suara hujan, terdengar suara ayahnya menyalakan radio keras-keras, seolah ingin menenggelamkan rasa bersalahnya sendiri.
Malam itu, Randa tidur dengan tubuh menggigil dan pikiran bergetar.
Ia tak tahu bahwa kata “tidak mau jadi seperti dia” justru akan tumbuh menjadi luka yang sama — hanya dalam bentuk lain.
Yang Pergi Tanpa Pamit
Langit pagi itu kelabu.
Randa duduk di depan meja makan dengan wajah tegang, rokok di tangan, dan kopi yang sudah dingin di cangkir. Rena sibuk menulis sesuatu di buku kecilnya, mencoba pura-pura tidak mendengar suara pintu kamar Dio yang terbanting.
Beberapa menit kemudian, Dio keluar — seragamnya kusut, rambutnya masih basah, ransel tersampir di bahu.
“Aku pergi dulu,” katanya datar.
Randa menatap sekilas, lalu mendengus.
“Pergi? Pergi kemana? Sekolah aja udah telat jam segini.”
“Iya, sekolah.”
“Kalau sekolah, kenapa wajahmu kayak orang berantem?”
Dio tidak menjawab. Ia hanya menatap meja — di atasnya ada sepatu lamanya yang rusak.
Randa tahu, sepatu itu jadi alasan pertengkaran kemarin. Tapi entah kenapa, amarahnya naik lagi, seolah suara ayahnya dulu menggema di kepalanya.
“Kau pikir aku kerja tiap hari buat lihat kau malas-malasan?!”
“Aku gak malas, Yah. Aku cuma capek diomelin terus.”
“Capek?! Kau pikir aku gak capek?! Aku bangun jam lima, kerja sampai malam—buat siapa, hah?!”
Suara Randa meninggi.
Rena menatap mereka dari meja, matanya berkaca. Dio menggenggam ranselnya kuat-kuat.
“Aku gak minta Papa kerja buat aku. Aku cuma mau Papa berhenti marah setiap hari.”
Kata-kata itu menusuk.
Tapi Randa, yang tidak tahu cara menjawab rasa sakit, justru menyerang balik.
“Kalau gak suka di rumah ini, pergi aja sekalian!”
Hening.
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam sumur.
Randa ingin menariknya kembali, tapi Dio sudah menatapnya — mata remaja itu tajam, tapi di baliknya ada luka yang dalam. Ia tidak berteriak, tidak menangis.
Hanya berkata pelan:
“Oke.”
Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
Rena berdiri, panik.
“Kak Dio, jangan—”
Tapi pintu sudah tertutup.
Hujan turun tanpa aba-aba, menimpa genting rumah mereka.
Randa berdiri diam di ruang tamu, napasnya berat, tangan gemetar memegang rokok yang sudah padam.
Dalam dadanya, sesuatu retak — tapi egonya menutupinya cepat-cepat.
“Biarin aja. Anak itu cuma butuh pelajaran,” katanya lirih, seolah meyakinkan diri sendiri.
Rena menangis, tapi Randa tetap diam.
Ia menatap sepatu Dio di lantai, masih di tempat yang sama seperti kemarin — basah oleh air hujan yang menetes dari atap.
Dan untuk pertama kalinya, rumah itu benar-benar sunyi.
Bukan karena tak ada suara — tapi karena seseorang telah pergi, dan membawa separuh jiwanya bersamanya.
Yang Mencari di Tengah Hujan
Hujan turun sejak sore dan belum juga berhenti.
Randa duduk di teras, rokok di tangan, pandangan kosong menatap jalan.
Di sampingnya, sandal Dio masih tergeletak — yang kanan sedikit berlubang, yang kiri penuh lumpur kering.
Rena mendekat, membawa payung kecil berwarna ungu.
“Pa…”
“Apa?”
“Kak Dio belum pulang.”
“Dia tau jalan pulang,” jawab Randa cepat, tanpa menatap.
“Tapi udah dua hari, Pa.”
Kata-kata itu menembus pertahanannya.
Randa menatap langit yang gelap. Hujan memukul genting seperti ribuan jarum.
Dalam kepalanya, suara masa lalu mulai muncul:
“Kalau gak suka di rumah ini, pergi aja sekalian!”
Kalimat yang dulu ia ucapkan kini kembali menghantam dirinya sendiri.
Ia berdiri tiba-tiba, mengenakan jaket lusuh.
“Kau jaga rumah, Ren. Papa keluar sebentar.”
“Mau kemana?”
“Cari kakakmu.”
Jalanan kampung licin. Lampu jalan redup, menyorot aspal yang mengilap karena air.
Randa berjalan cepat, menatap kiri-kanan. Ia berhenti di warung depan gang.
“Bu, lihat Dio gak? Anak saya, tinggi, rambut agak gondrong.”
“Oh, Dio? Wah, udah dua hari gak kelihatan, Pak Randa.”
Jawaban itu membuat dadanya mengeras.
Ia menyalakan motor, melaju ke arah pasar, lalu ke lapangan tempat Dio biasa nongkrong dengan teman-temannya. Kosong.
Hujan semakin deras. Baju dan jaketnya basah total.
Ia menepi di bawah pohon besar, menatap langit yang seperti tak mau berhenti menangis.
“Dio…” bisiknya, tapi suaranya tenggelam oleh suara hujan.
Tiba-tiba ia melihat sesuatu di kejauhan — anak kecil berlari dengan payung rusak, dan di belakangnya, bayangan remaja yang mirip Dio.
Randa berlari.
“Dio! Dio!”
Tapi ketika ia mendekat, yang menoleh bukan Dio.
Seorang anak lain, menatap heran.
“Bukan saya, Pak.”
Randa terdiam, napasnya memburu. Ia tertawa kecil, getir, setengah gila.
“Maaf… maaf, Nak…”
Ia berdiri di tengah hujan, tanpa payung, tubuhnya gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, air mata bercampur dengan air hujan.
Ia menangis diam-diam, tak lagi peduli siapa yang melihat.
“Kau ke mana, Nak…? Pulanglah…”
Di kejauhan, suara azan Isya terdengar sayup-sayup.
Randa menatap langit, memejamkan mata. Dalam gelap dan dingin, ia sadar:
ketika ia kehilangan anaknya, ia seperti kehilangan dirinya sendiri.
Jejak di Kolong Jembatan
Malam itu langit seperti luka yang belum kering — kelam dan berat.
Randa berjalan menyusuri jalan dekat terminal dengan langkah tertatih. Kakinya nyaris lumpuh karena kelelahan, tapi pikirannya terus mendorong untuk melangkah.
Ia berhenti di bawah jembatan beton yang lembap dan berbau besi karat. Di sana, suara hujan bergema seperti ribuan bisikan.
“Anak-anak sering ngumpul di sini, Pak,” kata seorang tukang parkir yang duduk di bangku kayu. “Yang kabur dari rumah, biasanya tidur di situ, di belakang tiang beton.”
Randa menatap arah yang ditunjuk.
Ada tumpukan kardus, selembar selimut compang-camping, dan kaleng mie instan kosong.
Ia berjalan pelan, lututnya gemetar.
Di antara tumpukan itu, sesuatu menarik perhatiannya — ransel hitam dengan gantungan kunci berbentuk gitar kecil.
Randa tertegun. Ia tahu betul benda itu. Dio membelinya dengan uang tabungan sendiri di toko musik kecil tahun lalu.
Tangannya gemetar ketika memungutnya.
“Dio…” suaranya pecah.
Ia membuka ransel itu dengan hati-hati.
Di dalamnya ada buku catatan sekolah yang sudah lembap, sepasang kaus kaki, dan foto kecil — foto mereka bertiga: Randa, Dio, dan Rena, tersenyum di depan warung bakso.
Air hujan menetes dari rambutnya, jatuh di atas foto itu, membuat senyum di sana tampak bergetar.
Randa tak kuat lagi menahan tangis. Ia berlutut di tanah basah, menggenggam ransel itu ke dadanya seolah bisa mengembalikan anaknya lewat sentuhan.
“Kenapa harus begini, Nak…? Aku cuma… aku cuma pengen kau jadi orang baik…”
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.
Seorang bocah laki-laki kira-kira 13 tahun muncul, mengenakan jaket tambal sulam.
“Om nyari Dio, ya?”
Randa menoleh cepat.
“Kau kenal Dio?”
“Iya. Dia tidur di sini semalem. Mukanya luka, kayak abis jatuh. Terus pagi tadi dia pergi ke arah stasiun.”
“Sendirian?”
“Iya. Dia bilang mau cari kerja.”
Randa terdiam, dada sesak.
“Cari kerja…” — padahal anak itu masih sekolah.
Ia menatap ransel di tangannya, lalu langit yang masih menetes pelan.
“Om… Dio baik, Om. Dia suka bagi makanan kalau lagi ada lebih. Tapi dia sering melamun, ngomong sendiri. Katanya dia pengen bapaknya berhenti marah.”
Kalimat itu menghantam Randa seperti petir tanpa suara.
Ia menatap bocah itu lama, lalu duduk di tanah, wajahnya menunduk.
“Bilang sama Dio… kalau kau lihat dia lagi… bilang Papa-nya nyesel. Bilang Papa-nya pengen pulangin dia.”
Bocah itu mengangguk pelan.
Randa menatap ransel sekali lagi, lalu memeluknya.
Dalam pelukan itu, ada rasa sakit, cinta, dan ketakutan yang bercampur jadi satu — seperti hujan yang tak tahu kapan harus berhenti.
Ketika ia pulang malam itu, Rena sudah tertidur di sofa, masih memeluk buku catatannya.
Randa duduk di lantai, meletakkan ransel Dio di dekat kaki anaknya, dan berbisik:
“Papa temuin dia, Ren. Cepat atau lambat, Papa bakal temuin dia…”
Lampu rumah redup. Hujan di luar berubah jadi gerimis.
Dan untuk pertama kalinya, Randa berdoa — bukan dengan kata-kata, tapi dengan air mata.
Langit di Atas Stasiun
Pagi itu langit seperti abu yang belum jadi terang.
Kabut menggantung di atas rel, dan udara berbau logam basah.
Randa memarkir motornya di depan stasiun kecil — Stasiun Cilebut, tempat yang jarang ia datangi. Ia datang ke situ karena bocah jalanan semalam bilang, “Kata Dio, dia mau kerja di kota.”
Langkahnya berat.
Setiap detik terasa seperti berjalan di atas kenangan sendiri.
Ia menatap ke arah peron, dan di ujung sana, duduk seseorang yang membuatnya berhenti bernapas.
Dio.
Anak itu duduk di bangku besi, memeluk lutut, jaketnya sobek di bagian siku. Di sampingnya, ada kantong plastik berisi roti dan air mineral. Matanya kosong, menatap rel yang basah oleh embun pagi.
Randa berdiri diam lama sekali, tak tahu harus mulai dari mana.
Bibirnya kaku. Tenggorokannya seperti kering padahal udara lembap.
“Dio…”
Suara itu keluar pelan, hampir tak terdengar. Tapi Dio menoleh.
Mata mereka bertemu — dan seolah seluruh waktu berhenti.
Anak itu tak bergerak. Tak tersenyum.
Ia hanya menatap ayahnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan: campuran takut, rindu, dan kecewa.
Randa melangkah pelan, mendekat.
“Kau… ngapain di sini, Nak?”
Dio tidak menjawab. Ia menunduk.
Randa menatap tangannya yang memegang roti setengah habis, lalu melihat luka kecil di pelipisnya.
“Kau jatuh?”
(hening)
“Kau makan cukup?”
(hening lagi)
Randa menggigit bibirnya. Ia ingin memeluk anaknya, tapi ada sesuatu yang menahan — dinding yang ia bangun sendiri selama bertahun-tahun.
“Papa nyari kamu,” akhirnya ia berkata.
“Kenapa? Takut kelihatan orang-orang kalau anak Papa kabur?”
Suara Dio datar, tapi setiap katanya seperti pisau yang diselipkan perlahan ke dada Randa.
“Bukan… Papa takut kamu kenapa-kenapa.”
“Sekarang baru takut? Dulu Papa cuma tahu marah.”
Randa menunduk. Tangannya gemetar.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
“Papa cuma…” suaranya parau, “…gak tahu cara lain, Dio. Papa pikir kalau Papa keras, kamu bakal kuat. Papa cuma takut kamu—”
“Takut aku jadi kayak siapa, Pa?”
“Kayak Papa.”
Hening panjang menyelimuti peron.
Kereta lewat di jalur sebelah, suara rodanya menggema seperti gema masa lalu yang lewat sebentar lalu menghilang.
Randa akhirnya duduk di sebelah Dio, tanpa banyak bicara.
Ia mengeluarkan sesuatu dari jaketnya — foto kecil yang basah. Foto keluarga mereka bertiga.
“Ini Papa temuin di ranselmu.”
“Kenapa Papa bawa?”
“Karena Papa gak tahu apa lagi yang tersisa dari kita bertiga.”
Dio menatap foto itu lama. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.
Randa menatap langit yang mulai terang pelan.
“Papa gak bisa janji gak marah lagi. Tapi Papa janji belajar buat diem, buat dengerin.”
Untuk pertama kalinya, Dio menoleh perlahan.
“Papa mau belajar?”
“Iya. Dari kamu.”
Senyum kecil muncul di sudut bibir Dio — bukan senyum bahagia, tapi semacam retakan pertama di tembok yang keras itu.
Mereka duduk berdua, diam, tapi tidak lagi jauh.
Kereta berikutnya lewat. Angin menerpa wajah mereka.
Randa menatap anaknya dan tahu — ia tidak akan kehilangan lagi, selama masih punya keberanian untuk berubah.
Belajar Diam
Sudah tiga minggu sejak hari di stasiun itu.
Rumah mereka kini lebih tenang, tapi juga terasa canggung — seperti orang-orang yang baru pindah ke dunia yang belum mereka kenal.
Pagi itu, Randa duduk di meja makan.
Rena menyiapkan roti bakar seadanya, sementara Dio duduk di sudut, menulis sesuatu di buku catatannya.
Randa memperhatikan mereka, ingin bicara — tapi lidahnya kaku.
Biasanya ia sudah berteriak soal waktu atau kerapian, tapi pagi ini ia hanya diam, menatap jam dinding yang berdetak lambat.
“Kopinya, Pa.”
Rena menyodorkan cangkir kecil.
Randa tersenyum samar.
“Terima kasih, Ren.”
Anak itu mengangguk pelan.
Ia tampak masih takut-takut, tapi ada kelegaan di wajahnya karena ayahnya tidak membentak hari ini.
Randa menyeruput kopi pelan. Rasanya pahit, tapi hangat — seperti hidup yang sedang belajar mulai lagi dari awal.
Sore harinya, Randa pulang dari bengkel lebih awal.
Ia membawa sesuatu di tangannya — sepasang sepatu baru.
Ia memanggil Dio yang sedang duduk di teras, gitar di pangkuannya.
“Nih.”
“Apa ini?”
“Sepatu. Buat sekolah.”
Dio memandangi sepatu itu lama.
“Papa gak harus beli, aku masih bisa pakai yang lama.”
“Yang lama udah rusak.”
“Tapi Papa kerja keras—”
“Gak apa. Papa cuma… pengen kau punya sesuatu yang gak rusak karena marah.”
Dio terdiam. Matanya basah, tapi ia berpura-pura mengikat tali sepatu.
Randa duduk di sebelahnya, keduanya tak bicara lama.
Yang terdengar hanya suara hujan sore di luar, dan petikan gitar kecil yang pelan-pelan mengisi ruang di antara mereka.
Malamnya, Randa mengetok pintu kamar Rena.
Anak itu sedang menggambar sesuatu di buku: tiga orang di bawah hujan, tersenyum.
“Itu kita?”
“Iya, Pa. Tapi sekarang hujannya gak deras lagi.”
“Kenapa?”
“Soalnya Papanya udah berhenti marah.”
Randa tertawa kecil, lalu memeluk Rena pelan — canggung, tapi hangat.
Pelukan itu seperti benih kecil dari cinta yang dulu hilang.
Di kamar, Randa duduk sendirian di ranjang.
Di depannya, ada foto lama yang dulu ia temukan di ransel Dio — kini sudah dikeringkan, dilapisi plastik bening.
Ia menatap foto itu lama, lalu berbisik:
“Aku gak tahu caranya jadi ayah yang baik, Mira. Tapi aku belajar… pelan-pelan.”
Angin malam masuk lewat jendela, membawa bau hujan yang lembut.
Dan untuk pertama kalinya, Randa tidur tanpa rasa marah di dadanya.
Suara di Dalam Diri
Langit sore itu kelam — hujan turun deras, membasahi halaman bengkel kecil yang nyaris kosong.
Hanya ada satu motor di dalam, dan suara tetes air dari atap bocor.
Randa sedang menghitung uang receh di meja kerja.
Tangan kasarnya gemetar.
Totalnya tidak sampai cukup untuk bayar listrik besok.
Pintu bengkel terbuka dengan suara berderit.
Masuklah seorang pria bertubuh besar dengan jaket hitam — Samat, pemasok oli yang sudah dua kali menagih.
“Randa, udah seminggu, bro. Gue butuh bayarannya hari ini.”
“Aku tahu, Mat. Kasih aku waktu dua hari lagi, pelanggan lagi sepi—”
“Gue juga butuh makan, Ran.”
Nada Samat meninggi.
Randa menunduk, napasnya cepat.
Di dalam kepalanya, suara lain mulai muncul — berat, dingin, seperti gema masa lalu.
“Kalau orang ngeremehin kamu, jangan diam. Tunjukin siapa yang berkuasa!”
Itu suara ayahnya.
Suara yang dulu selalu muncul sebelum tangan Randa terangkat, sebelum mulutnya berteriak.
Tangannya mengepal. Matanya memanas.
“Aku bilang dua hari, Mat.”
“Dua hari dari kemarin, Ran!”
Samat menepuk meja.
Baut-baut bergetar.
Randa berdiri. Dadanya naik-turun cepat. Di dalam kepalanya, suara itu semakin keras.
“Teriak! Jangan biarin mereka injak harga dirimu!”
Sampai tiba-tiba —
ia melihat wajah Rena di benaknya, menangis di meja makan dulu.
Dan wajah Dio, diam di peron stasiun, dengan luka di pelipis.
Semuanya berhenti.
Randa menutup mata, menarik napas panjang.
Tangannya perlahan melemah.
“Mat, aku ngerti kamu butuh uang. Aku juga. Tapi aku gak mau ribut. Dua hari lagi, aku bayar. Kalau belum bisa, ambil aja alat-alat bengkel ini.”
Samat tertegun.
Randa tak marah. Suaranya datar, tapi tenang — seperti ombak yang baru saja surut setelah badai.
Samat akhirnya mengangguk.
“Oke, Ran. Gue percaya lu.”
Ia keluar tanpa banyak bicara lagi.
Begitu pintu tertutup, Randa jatuh duduk di lantai, memegang kepala.
Tubuhnya gemetar. Bukan karena takut — tapi karena lelah menahan perang yang tidak terlihat.
“Diam… diam, Ran,” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Kamu gak harus marah buat didengar.”
Hujan masih turun, tapi kali ini terdengar seperti musik lembut.
Ia menatap tangan kasarnya — tangan yang dulu memukul meja, kini hanya mengepal di dada sendiri, menjaga agar amarah tak keluar.
Malamnya, di rumah, Dio mengetuk pintu kamar ayahnya.
“Pa, aku denger tadi ada yang ribut di bengkel?”
“Iya, tapi gak apa. Papa udah beresin.”
“Papa gak marah?”
“Enggak.”
Dio terdiam sejenak.
“Papa hebat.”
Randa tersenyum kecil.
“Papa gak hebat, Dio. Papa cuma… lagi belajar diem.”
Dio mendekat, menepuk bahu ayahnya.
“Kadang, diem lebih susah dari marah, Pa.”
“Iya, Nak… iya.”
Lampu kamar redup.
Hujan berhenti.
Dan di dada Randa, ada sesuatu yang baru tumbuh — bukan lagi rasa bersalah, tapi ketenangan kecil yang lahir dari keberanian untuk berubah.
Hari Tanpa Hujan
Matahari pagi menembus tirai lusuh, memantul di meja makan yang kini tampak lebih bersih dari biasanya.
Rena sibuk memanggang roti, sementara Dio duduk di lantai, menyetem gitar yang senarnya sudah sedikit berkarat.
Randa keluar dari kamar, mengenakan kaus polos dan senyum yang jarang terlihat dulu.
Rena menoleh.
“Pa, hari ini gak hujan!”
Randa menatap langit di luar jendela. Benar — biru muda, bersih, tanpa awan berat seperti biasanya.
“Iya. Hari yang bagus, ya?”
“Boleh kita jalan-jalan, Pa?”
“Boleh.”
Dio menatap mereka sebentar.
“Jalan ke mana?”
“Terserah kamu,” jawab Randa. “Asal jangan jauh-jauh, bengkel masih harus buka siang nanti.”
“Gimana kalau ke taman di seberang jembatan?”
“Boleh.”
Nada suaranya tenang. Tidak ada nada perintah. Tidak ada bentakan.
Sekadar kesepakatan lembut antara ayah dan anak.
Beberapa jam kemudian, mereka berjalan bertiga di jalan setapak menuju taman.
Rena berlari kecil di depan, menggandeng tangan Dio.
Randa mengikuti di belakang, memperhatikan mereka — dua sosok kecil yang dulu sering ia takuti kehilangan.
Angin berhembus, membawa bau tanah yang hangat.
Di kejauhan, suara anak-anak bermain bola, tawa, dan musik dari radio penjual es krim tua.
Randa duduk di bangku taman, menyalakan rokok — tapi kali ini ia tidak menyalakan apinya.
Batang rokok hanya digenggamnya seperti kebiasaan lama yang sedang dilepaskan pelan-pelan.
Dio duduk di sebelahnya.
“Pa…”
“Hm?”
“Kalau nanti aku gede, aku gak mau marah kayak dulu.”
“Bagus.”
“Tapi… kalau aku marah, aku bakal inget Papa.”
Randa menatap anaknya.
“Kenapa?”
“Karena Papa buktiin kalau orang bisa berubah.”
Hening sejenak.
Randa memejamkan mata, menatap langit lewat celah kelopak.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Terima kasih, Nak.”
Rena datang membawa tiga es krim — cokelat, stroberi, dan vanila.
“Pa, ini buat Papa!”
“Wah, terima kasih. Papa dapat rasa apa nih?”
“Stroberi. Katanya manis.”
Randa menggigit sedikit.
“Manis banget.”
“Papa suka?”
“Suka banget.”
Rena tertawa kecil, Dio tersenyum samar.
Angin berhembus lembut, dan daun-daun jatuh perlahan di sekitar mereka — bukan karena badai, tapi karena waktu yang berganti dengan tenang.
Sore harinya, mereka berjalan pulang.
Langit oranye lembut. Matahari perlahan tenggelam di balik jembatan yang dulu menjadi saksi kesedihan Randa.
Ia berhenti sebentar, menatap ke arah kolong jembatan tempat ia pernah menangis mencari Dio.
Kini tempat itu sepi, diterpa cahaya sore yang hangat.
“Dulu Papa pikir hujan itu kutukan,” katanya pelan.
“Sekarang?” tanya Dio.
“Sekarang Papa tahu — hujan cuma cara langit bilang, ‘berhentilah sebentar, tenangkan dirimu.’”
Rena menggenggam tangan ayahnya.
“Tapi hari ini gak hujan, Pa.”
Randa tersenyum.
“Iya. Mungkin karena kita udah tenang.”
Mereka bertiga berjalan pulang, perlahan, menyusuri jalanan kecil yang dulu terasa dingin.
Sekarang jalan itu sama, tapi rasanya berbeda.
Di balik langit tanpa awan itu, Randa tahu satu hal pasti:
cinta bukan berarti tak pernah marah — tapi tahu kapan harus diam, dan kapan harus mendengar.
Langit Setelah Hujan
Langit sore berwarna oranye lembut, seperti permen karamel yang meleleh di cakrawala.
Di halaman rumah yang sama — rumah kecil di pinggiran kota — Randa duduk di kursi kayu tua, menyeruput teh panas.
Asapnya naik pelan, mengingatkannya pada rokok yang dulu sering ia nyalakan setiap kali marah.
Sekarang, ia sudah berhenti.
Sudah tiga tahun.
Dan setiap kali ia ingin menyalakan satu, ia hanya menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum.
Di meja di depannya, ada sebuah amplop setengah terbuka — surat dari Dio.
Tulisan tangan anaknya kini lebih dewasa, lebih mantap.
“Pa, kerjaan di bengkel mobil di Bandung berjalan lancar.
Aku sering kepikiran Papa tiap kali lihat pelanggan marah-marah.
Dulu aku benci kalau Papa marah, tapi sekarang aku ngerti — marah itu cuma cara orang minta didengar.
Aku belajar dari Papa: kalau mau didengar, jangan teriak.
Cukup tenang.”
Randa tersenyum kecil.
Di ujung surat, ada kalimat yang membuat matanya sedikit basah.
“Terima kasih, Pa. Karena berani berubah.”
Ia menutup surat itu perlahan, lalu menatap halaman rumahnya.
Rena duduk di bangku taman kecil, menggambar sesuatu di buku sketsanya — wajah ayahnya, dengan langit biru di belakangnya.
“Pa,” kata Rena, tanpa menoleh.
“Hm?”
“Aku lagi gambar langit.”
“Langit yang mana?”
“Yang gak ada hujan.”
Randa tertawa kecil.
“Sejak kapan kamu suka gambar langit?”
“Sejak Papa berhenti marah. Soalnya waktu Papa masih sering marah, langit di kepala aku selalu mendung.”
Randa menatap anaknya lama, lalu berkata pelan,
“Papa dulu sering nyalahin hujan, padahal yang ribut itu hatinya sendiri.”
Rena menatap ayahnya dan tersenyum, senyum yang menghangatkan seperti matahari sore.
“Sekarang udah tenang, kan, Pa?”
“Iya, Nak. Sekarang udah tenang.”
Malam turun perlahan.
Randa berjalan masuk ke bengkel kecil di samping rumah — tempat yang dulu menjadi sumber stres, kini jadi ruang yang damai.
Ia menatap dinding yang dulu pernah ia pukul, sekarang bersih dan rapi, ada foto keluarga terpajang di sana:
dirinya, Dio, dan Rena — tersenyum di taman di hari tanpa hujan.
Ia menatap foto itu lama, lalu mematikan lampu bengkel.
Sebelum pintu tertutup, ia berbisik pelan:
“Terima kasih, Tuhan… karena kasih sayang kadang datang dalam bentuk yang keras dulu — supaya kita belajar melembutkannya sendiri.”
Di luar, langit bertabur bintang.
Udara segar. Tidak ada hujan, tidak ada guntur.
Hanya kesunyian yang hangat — seperti hati yang akhirnya berdamai.
Tema:
Kadang, cinta tidak datang dalam bentuk pelukan lembut.
Kadang cinta datang dalam bentuk teriakan, yang kemudian menyesalinya.
Tapi cinta sejati — selalu belajar berubah.
Selalu mau tenang, meski lahir dari badai.

Komentar
Posting Komentar
Harap gunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung unsur SARA.